Selasa, 03 Januari 2012

Pengaruh Lingkungan terhadap Tb Paru


PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP TUBERKULOSIS PARU

Oleh
Oksfriani Jufri Sumampouw

The Laboratory of Environmental Health Study Program of Public Health Science
The Faculty of Public Health Sam Ratulangi University
Jl. Kampus UNSRAT Kleak Manado 95115 Phone Number 08124442467


ABSTRAK
Penyakit tuberkulosis paru (Tb paru) merupakan penyakit penyebab kematian ketiga setelah penyakit kardiovaskuler dan saluran pernafasan. Faktor-faktor penyebab tuberkulosis paru antara lain rendahnya pendapatan, kualitas gizi masyarakat rendah, buruknya lingkungan perumahan (termasuk kualitas udara dalam rumah), sanitasi dan kepadatan penghuni. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor lingkungan dan penyakit Tb paru. Kesimpulan tulisan ini yaitu faktor lingkungan seperti kepadatan hunian, ventilasi dan suhu ruangan dapat menyebabkan Tb paru sehingga disarankan untuk meningkatkan penemuan dan pengobatan penderita sedini mungkin hingga penderita sembuh dan perlu adanya tindakan promosi dari tenaga kesehatan terhadap masyarakat khususnya masyarakat berisiko tentang menjaga kondisi lingkungan dalam hal ini rumah tetap sehat.
Kata Kunci: Tb paru, lingkungan


ABSTRACT
Pulmonary tuberculosis is a disease the third leading cause of death after the cardivasculer disease and respiratory tract in all age groups and the first cause of death in infectious diseases. Risk factors of pulmonary tuberculosis such as low of income, quality of society nutrient, quality of house environment, sanitation and density of dweller. This article aim is to discuss pulmonary tuberculosis and the environment factors. It can be concluded that sleeping density, ventilation and temperature has associated with pulmonary tuberculosis. Therefore, it is recommended to improve the case finding, early treatment and cure the patients and need promotion for risk community about environmental health especially health house.
Key words: Lung Tuberculosis, Environmental












PENDAHULUAN
Tuberkulosis (Tb) paru merupakan penyakit infeksi kronik dan menular yang erat kaitannya dengan keadaan lingkungan dan perilaku masyarakat. Penyakit ini merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini ditularkan melalui udara yaitu lewat percikan ludah, bersin dan batuk. Penyakit Tb paru biasanya menyerang paru dan dapat pula menyerang organ tubuh yang lain. Tb paru masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Penyakit Tb paru banyak menyerang kelompok usia produktif dan kebanyakan berasal dari kelompok sosial ekonomi rendah dan tingkat pendidikan yang rendah (Aditama, 2002).
World Health Organization (WHO) pada tahun 1995, memperkirakan insiden Tb paru setiap tahun sebanyak 583.000 kasus dengan angka kematian (mortality rate) sekitar 140.000 kasus. Tb paru merupakan penyebab kematian ketiga terbesar di dunia setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan. Penyakit ini menjadi penyakit penyebab kematian nomor satu terbesar di dunia dalam kelompok penyakit infeksi (Crofton, 2002).
Adanya fenomena peningkatan insidensi dan prevalensi kasus Tb paru di seluruh dunia, yang dikenal sebagai fenomena Tb paru global, telah mendorong WHO mendeklarasikan global health emergency pada bulan maret 1993, untuk menyadarkan masyarakat dunia bahwa kita sedang menghadapi ancaman serius penyakit Tb paru. Pada bulan September 2000, diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diikuti oleh 189 negara anggota. Konferensi itu menyepakati untuk mengadopsi Tujuan Pembangunan Milenium atau Millenium Development Goals (MDGs). Tantangan untuk memenuhi delapan tujuan diatas tersebut memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya. Tercapainya satu tujuan, dapat mendekatkan pencapaian tujuan lainnya. Berdasarkan hal tersebut maka penurunan jumlah kasus insidensi dan prevalensi penyakit Tb menjadi salah satu tujuan MDGs yang mesti secara bersama-sama diperjuangkan hingga tahun 2015 (Anonim, 2008).
Tuberkulosis paru merupakan penyakit yang erat kaitannya dengan ekonomi lemah dan diperkirakan 95% dari jumlah kasus Tb paru terjadi di Negara berkembang yang relatif miskin. Menurut WHO tahun 1999, Indonesia merupakan penyumbang penyakit paru terbesar nomor tiga di dunia sebanyak 583.000 kasus setelah India sebanyak 2 juta kasus dan Cina sebanyak 1,5 juta kasus (Anonim, 2002).
Tuberkulosis paru merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Diperkirakan setiap tahun sebanyak 450.000 kasus baru Tb paru terjadi, dimana 1/3 penderita ditemukan di puskesmas, 1/3 di rumah sakit dan 1/3 lainnya ditemukan di unit pelayanan kesehatan yang tidak terjangkau seperti pengobatan tradisional. Penderitanya di Indonesia sebagian besar terjadi pada kelompok usia produktif dengan sosial ekonomi yang rendah (Anonim, 2004).
Saat ini, jumlah kasus baru (insidensi) dan kasus lama (prevalensi) penyakit Tb paru di seluruh dunia terus meningkat. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain, yaitu 1) tingginya angka kemiskinan pada mayoritas penduduk di negara berkembang dan di beberapa daerah perkotaan di negara maju, 2) perubahan demografik dengan meningkatnya umur harapan hidup, 3) perlindungan kesehatan yang tidak memadai di banyak negara miskin, 4) kurangnya akses terhadap sarana dan pra saraana kesehatan, rendahnya pengawasan kasus penyakit Tb paru, serta kemampuan deteksi kasus Tb paru dan tata-laksana yang tidak memadai, 5) ledakan jumlah kasus HIV, terutama di Afrika dan Asia dan 6) fenomena resistensi obat anti-Tb paru.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 menunjukkan bahwa Periode Prevalence Tb Paru 2009/2010  berdasarkan diagnosa tenaga kesehatan melalui pemeriksaan dahak dan atau foto paru sebesar 725/100.000 penduduk. Lima provinsi yang memiliki angka prevalensi tertinggi yaitu Papua 1.441 per 100.000 peduduk, Banten 1.282 per 100.000 penduduk, Sulawesi Utara 1.221 per 100.000 penduduk, Gorontalo 1.200 per 100.000 penduduk, dan  DKI Jakarta 1.032 per 100.000 penduduk.  Periode Prevalence Tb paru tertinggi terdapat pada kelompok di atas usia 54 tahun sebesar 3.593 per 100.000 penduduk sedangkan pada kelompok lain dengan kisaran 348 per 100.000 penduduk 943 per 100.000 penduduk. Prevalensi Tb paru paling banyak terdapat pada jenis kelamin laki-laki 819 per 100.000 penduduk, penduduk yang bertempat tinggal di desa 750 per 100.000 penduduk, kelompok pendidikan yang tidak sekolah 1.041 per 100.000 penduduk), petani/nelayan/buruh 858 per 100.000 penduduk dan pada penduduk dengan tingkat pengeluaran kuintil 4 sebesar 607 per 100.000 penduduk (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
Beberapa penelitian yang telah dilakukan menemukan beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya Tb paru. Ratnasari (2005), yang meneliti tentang faktor-faktor risiko Tb paru di beberapa unit pelayanan kesehatan kota Semarang menemukan bahwa kepadatan hunian berhubungan dengan kejadian Tb paru dimana Odds Ratio (OR) sebesar 2,4 dengan 95% Confidence Interval (CI): 1,09-5,47, selanjutnya pencahayaan dimana OR sebesar 2,7 dengan 95% CI: 1,18-5,99 dan luas ventilasi dimana OR 2,3 dengan  95% CI: 1,01-5,00.
Subaeti (2005), yang melakukan penelitian tentang faktor risiko Tb paru pada petugas mikroskopis di kabupaten Kebumen menemukan bahwa jenis kelamin berhubungan dengan kejadian Tb paru dimana OR sebesar 1,08 dan umur berhubungan dengan kejadian Tb paru dimana OR sebesar 1,06. Selanjutnya, penelitian lain yang menunjukkan adanya hubungan antara lingkungan fisik rumah seperti kepadatan hunian, pencahayaan, ventilasi, kelembaban, dan jenis lantai telah dilakukan oleh Sugiharto (2004) yang menemukan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara kepadatan hunian dengan kejadian Tb paru dimana OR sebesar 2,716 dan dipengaruhi oleh kondisi pencahayaan dimana OR sebesar 4,256, dan ventilasi dimana OR sebesar 2,567. Wiasa (2009) juga telah melakukan penelitian yang sama dan memperoleh hasil bahwa kepadatan hunian berhubungan secara signifikan dengan kejadian Tb paru dimana OR sebesar 11,76 dan pencahayaan berhubungan signifikan dengan kejadian Tb paru dengan OR sebesar 12,82. Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk membahas tentang faktor lingkungan yang menyebabkan Tb paru.

PEMBAHASAN
1. Tuberkulosis
Tuberkulosis paru (Tb paru) merupakan suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Basil Tahan Asam (BTA).  Sebagian besar kuman Tb menyerang paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lain. kuman Tb cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun (Anonim, 2002).
Mycobacterium tuberculosis ditemukan oleh seorang dokter sekaligus seorang peneliti asal Jerman, Robert Koch berhasil menemukan bakteri penyebab Tb paru. Basil ini diberi nama Basil Koch, sesuai dengan nama penemunya dan sampai saat ini bakteri penyebab Tb paru disebut M. tuberculosis. Selain itu, Koch juga berperan dalam memperkenalkan tuberkulin pada tahun 1890 sebagai suatu cara pengobatan Tb (Bustan, 1997).

2. Transmisi Tb Paru
Penderita Tb paru BTA positif, dapat menjadi sumber penularan. Penularan terjadi melalui udara yang tercemar dengan M. tuberculosis yang dilepaskan pada saat penderita Tb paru batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita Tb paru dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi Tb paru dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru (Crofton, 2002).

3.   Riwayat Alamiah Penyakit
Secara umum riwayat alamiah penyakit terdiri dari:
  1. Tahap prepatogenesis. Tahap prepatogenesis Tb paru terjadi saat individu berinteraksi dengan penderita Tb paru positif yang sangat menular. Pada saat penderita Tb paru positif menyebarkan dahak yang mengandung  kuman BTA ke udara, maka individu tersebut dapat menghirup kuman BTA hingga mencapai paru-paru.
  2. Tahap patogenesis. Dalam tahap ini dibagi dalam empat tahap yaitu (Benenson, 1990):
1)      Tahap inkubasi. Masa inkubasi Tb paru adalah 4-12 minggu. Pada tahap ini terjadi reaksi daya tahan tubuh untuk menghentikan perkembangan kuman BTA. Walaupun terdapat reaksi daya tahan tubuh, namun ada sebagian BTA yang menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Apabila daya tahan tubuh tidak dapat menghentikan perkembangan kuman, maka dalam beberapa bulan akan menjadi penderita Tb paru dan memberikan gejala.
2)      Tahap penyakit dini. Tahap ini dimulai saat penderita mengalami gejala awal penyakit, yang biasanya dikarenakan oleh adanya penurunan daya tahan tubuh, sehingga pada tahap ini terjadi kerusakan paru secara luas dan terjadinya kavitasi atau pleura.
3)      Tahap penyakit lanjut. Pada tahap ini, penderita Tb paru dapat mengalami komplikasi seperti perdarahan saluran nafas bawah yang dapat menyebabkan kematian, kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial, pelebaran bronkus dan pembentukan jaringan ikat, adanya udara di dalam rongga pleura, penyebaran infeksi pada organ lain seperti otak, tulang, persendian dan ginjal, dan dapat juga terjadi insufisiensi kardio pulmoner.
4)      Tahap akhir penyakit. Pada tahap akhir penyakit, penderita Tb paru dapat menjadi sembuh atau meninggal. Penderita Tb paru dapat sembuh apabila penyakit yang dialami tidak sampai pada tahap penyakit lanjut atau terjadi komplikasi. Penderita juga dapat sembuh apabila dilakukan pengobatan Tb paru yang sesuai. Kematian dapat terjadi bila terdapat komplikasi atau penderita tidak melaksanakan pengobatan yang telah dianjurkan.
            Penderita Tb paru yang tidak diobati setelah 5 tahun, maka 50% dari penderita Tb paru akan meninggal, 25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi, dan 25% sebagai “kasus tropik” yang tetap menular (WHO, 1996).



4.   Pengaruh Faktor Lingkungan terhadap Tb Paru
Faktor lingkungan perumahan memegang peranan penting dalam menentukan terjadinya proses interaksi antara penjamu dengan unsur penyebab dalam proses terjadinya penyakit. Lingkungan fisik meliputi kepadatan hunian (rasio jumlah kamar tidur dan orang), ventilasi, dan suhu ruangan (Apriani, 2001).       
a.   Kepadatan Hunian. Kepadatan penghuni merupakan suatu proses penularan penyakit. Semakin padat maka perpindahan penyakit, khususnya penyakit menular melalui udara akan semakin mudah dan cepat, apalagi terdapat anggota keluarga yang menderita Tb paru dengan BTA (+).  Kuman Tb paru cukup resisten terhadap antiseptik tetapi dengan cepat akan menjadi inaktif oleh cahaya matahari, sinar ultraviolet yang dapat merusak   atau melemahkan fungsi vital organisme dan kemudian mematikan. Kepadatan hunian ditempat tinggal penderita Tb paru anak paling banyak ialah tingkat kepadatan rendah. Suhu di dalam ruangan erat kaitannya dengan kepadatan hunian dan ventilasi rumah (Behrman et al, 2003).
Kepadatan penghuni yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI, yaitu rasio luas lantai seluruh ruangan dibagi jumlah penghuni minimal 10 m2/orang. Luas kamar tidur minimal 8 m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih 2 orang tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun. Kepadatan hunian dapat juga ditentukan dengan jumlah kamar tidur dibagi dengan jumlah penghuni (sleeping density), dinyatakan dengan nilai: baik, bila kepadatan lebih atau sama dengan 0,7 cukup, bila kepadatan antara 0,5 - 0,7 dan kurang bila kepadatan kurang dari 0,5 (Anonim, 1999).
Beberapa penelitian telah dilakukan yang menegaskan bahwa kepadatan hunian bisa menjadi salah satu faktor penyebab (faktor risiko) Tb paru seperti penelitian yang dilakukan oleh Daryatno (2000) di Semarang yang menyatakan bahwa kepadatan hunian memiliki hubungan dengan kejadian Tb paru. Selanjutnya, Sugiharto (2004) melakukan penelitian tentang hubungan kepadata hunian dengan kejadian Tb paru dan diperoleh hasil adanya hubungan dengan nilai OR = 3,161 dengan nilai p = 0,001. Selanjutnya, Tobing (2009) melaksanakan penelitian dengan salah satu variabel yaitu kepadatan hunian yang memperoleh nilai p sebesar 0,004 yang berarti adanya hubungan yang signifikan antara kepadatan hunian dengan penyakit Tb paru dimana nilai OR sebesar 3,3 (95% CI : 1,45-7,9). Hal ini berarti, potensi kejadian penyakit Tb paru sebesar 3,3 kali di bangunan atau rumah yang kepadatan huniannya < 0,5.
Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Adnani dan Mahastuti (2007) tentang kondisi rumah dan penyakit Tb paru menunjukkan bahwa kepadatan hubian berhubungan dengan kejadian Tb paru dengan nilai OR sebesar 1,55 dengan 95% CI : 0,61-16,50. Selanjutnya Ratnasari (2005) yang melaksanakan penelitian di Kota Semarang menemukan bahwa kepadatan hunian berhubungan dengan kejadian Tb paru dengan nilai OR = 2,4 dimana 95% CI: 1,09-5,47. Penelitian tentang hal yang sama juga dilakukan oleh Yusri (2005) yang memperoleh hasil yaitu kepadatan hunian berhubungan dengan kejadian Tb paru dengan OR sebesar 4,0 dimana 95% CI : 1,7-9,6. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Rusnoto dkk (2004) tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Tb paru di Balai Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Paru ditemukan kepadatan hunian berhubungan dengan kejadian Tb paru dimana nilai OR sebesar 9,29 dengan 95% CI: 2,28-37,83.
Kepadatan penghuni merupakan suatu proses penularan penyakit. Semakin padat maka perpindahan penyakit, khususnya penyakit menular melalui udara akan semakin mudah dan cepat, apalagi terdapat anggota keluarga yang menderita Tb paru dengan BTA (+).  Kuman Tb paru cukup resisten terhadap antiseptik tetapi dengan cepat akan menjadi inaktif oleh cahaya matahari, sinar ultraviolet yang dapat merusak   atau melemahkan fungsi vital organisme dan kemudian mematikan. Kepadatan hunian ditempat tinggal penderita Tb paru anak paling banyak adalah tingkat kepadatan rendah. Suhu didalam ruangan erat kaitannya dengan kepadatan hunian dan ventilasi rumah (Behrman, et al 2003).
Daerah perkotaan (urban) yang lebih padat penduduknya dibandingkan di pedesaan (rural), peluang terjadinya kontak dengan penderita Tb paru lebih besar. Sebaliknya di daerah rural akan lebih kecil kemungkinannya. Dapat disimpulkan bahwa orang yang rentan (susceptible) akan terpapar dengan penderita Tb paru menular lebih tinggi pada wilayah yang pada penduduknya walaupun insiden sama antara yang penduduk padat dan penduduk tidak padat (Karyadi et al, 2006).
Kepadatan hunian akan memudahkan terjadinya penularan penyakit Tb paru di dalam rumah tangga. Bila dalam satu rumah tangga terdapat satu orang penderita Tb paru aktif dan tidak diobati secara benar maka akan menginfeksi anggota keluarga terutama kelompok yang rentan seperti bayi dan balita, semakin padat hunian suatu rumah tangga maka semakin besar risiko penularan (Karyadi et al, 2006).
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.829/MenKes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan, tempat tinggal merupakan kebutuhan pokok bagi setiap masyarakat, sama pentingnya, meskipun berbeda fungsinya, dengan dua unsur kebutuhan dasar lainnya, yaitu pakaian (sandang) dan makanan (pangan). Dari kondisi lingkungan tempat tinggal dapat terlihat tingkat kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat dan kondisi lingkungan yang sehat. Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga; sedangkan perumahan ialah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dilengkapi dengan sarana prasarana lingkungan (Anonim, 1999).
Rumah dikatakan baik dan aman, jika kualitas bangunan dan lingkungan dibuat dengan serasi. Rumah yang sehat yaitu jika bahan bangunannya memenuhi syarat (Azwar, 1999) :
1)      Lantai tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan. Lantai yang basah dan berdebu merupakan sarang penyakit,
2)      Dinding tembok adalah baik, namun bila di daerah tropis dan ventilasi kurang akan lebih baik dari papan,
3)      Atap genting cocok untuk daerah tropis, sedang atap seng atau asbes tidak cocok untuk ruma pedesaan karena disamping mahal juga menimbulkan suhu panas di dalam rumah.
b.   Ventilasi. Hal ini berhubungan dengan minimal luas jendela/ ventilasi adalah 15% dari luas lantai, karena ventilasi mempunyai fungsi (Azwar, 1999):
1)      Menjaga agar aliran udara di dalam rumah tetap segar, sehingga keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya 02 di dalam rumah yang berarti kadar CO2 yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat,
2)      Menjaga agar udara di ruangan rumah selalu tetap dalam kelembaban (humidity) yang optimum. Kelembaban yang optimal (sehat) yaitu sekitar 40 – 70% kelembaban yang lebih dari 70% akan berpengaruh terhadap kesehatan penghuni rumah. Kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk bakteri - bakteri patogen (penyebab penyakit),
3)      Membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena disitu selalu terjadi aliran udara yang terus menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir.
4)      Lingkungan perokok dapat menyebabkan udara mengandung nitrogen oksida sehingga menurunkan kekebalan pada tubuh terutama pada saluran napas karena berkembang menjadi makrofag yang dapat menyebab infeksi.
Azwar (1999) mengemukakan bahwa ventilasi mempunyai fungsi yaitu : 1) menjaga agar aliran udara di dalam rumah tetap segar, sehingga keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya O2 di dalam rumah yang berarti kadar CO2 yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat; 2) menjaga agar udara di ruangan rumah selalu tetap dalam kelembaban (humidity) yang optimum. Kelembaban yang optimal (sehat) yaitu sekitar 40 – 70% kelembaban yang lebih dari 70% akan berpengaruh terhadap kesehatan penghuni rumah. Kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri patogen (penyebab penyakit); 3) membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena disitu selalu terjadi aliran udara yang terus menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir; 4) lingkungan perokok akan menyebabkan udara mengandung nitrogen oksida sehingga menurunkan kekebalan pada tubuh terutama pada saluran napas karena berkembang menjadi makrofag yang dapat menyebab infeksi.
Beberapa penelitian telah dilakukan yang menegaskan bahwa ventilasi bisa menjadi salah satu faktor penyebab (faktor risiko) Tb paru seperti yang dilakukan oleh Ratnawati (2001) hasil penelitiannya menunjukkan tidak ada hubungan antara ventilasi rumah dengan kejadian Tb paru di Kabupaten Jepara (p > 0,05). Selanjutnya penelitian yang dilakukan Sumarjo (2004) di Kabupaten Banjarnegara memperoleh hasil yaitu adanya hubungan antara ventilasi rumah dengan kejadian Tb paru dengan nilai p sebesar 0,003 dan OR = 6,176. Hal ini berarti individu yang tinggal di rumah dengan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat memiliki risiko terkena Tb paru sebesar 6,2 kali dibandingkan mereka yang memiliki luas ventilasi yang memenuhi syarat. Selanjutnya, Tobing (2009) menyatakan bahwa dalam penelitian yang dilakukannya diperoleh hasil yatu nilai p sebesar 0,037 dan nilai OR sebesar 2,4 (9% CI-1,04-5.8). Selanjutnya, Darsoni (2005) yang melaksanaan penelitian di Desa Padang memperoleh hasil yaitu bahwa adanya hubungan antara luas ventilasi rumah dengan kejadian Tb paru dimana nilai p = 0,001 dan OR sebesar 10,8.
Adnani dan Mahastuti (2007) yang meneliti tentang Tb paru di Kecamatan Paseh menunjukkan bahwa individu yang memiliki ventilasi yang tidak baik memilihi risiko terkena Tb paru sebesar 3,69 dari pada mereka yang memiliki ventilasi yang memenuhi syarat. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Rusnoto dkk (2004) tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Tb paru di Balai Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Paru ditemukan luas ventilasi berhubungan dengan kejadian Tb paru dimana nilai OR sebesar 29,99 dengan 95% CI: 3,39-265,50.
Penelitian yang dilakukan oleh Sugiyarti (2003) tentang hubungan karakteristik kondisi rumah dan praktik kesehatan dengan kejadian Tb paru di wilayah kerja Puskesmas Gemuh I Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal menemukan bahwa luas ventilasi berhubungan dengan kejadian Tb paru dengan OR sebesar 3,125. Selanjutnya, Sugiarto (2003) menyatakan bahwa luas ventilasi berhubungan dengan kejadian Tb paru (p value = 0,004 dan OR = 2,5) dan Sumini (2005) yang menyatakan bahwa luas ventilasi berhubungan dengan kejadian Tb paru (p value = 0,046 dan OR = 2,1).
Hal ini dapat dipahami karena ventilasi memiliki berbagai fungsi seperti membebaskan ruangan rumah dari bakteri pathogen terutama kuman tuberculosis. Kuman Tb yang ditularkan melalui droplet nuclei dapat melayang di udara karena memiliki ukuran yang sangat kecil (50 mikron). Ventilasi yang tidak aik karena dapat menghalangi sinar matahari masuk ke dalam ruangan, padahal kuman Tb hanya dapat dibunuh dengan sinar matahari secara langsung (Notoadmojo; 2003; Lubis, 1989).
c.       Suhu Udara. Suhu udara yang ideal dalam rumah antara 18 - 30°C. Suhu optimal pertumbuhan bakteri sangat bervariasi. Mycobacterium tuberculosis tumbuh optimal pada suhu 37°C. Paparan sinar matahari selama 5 menit dapat membunuh M. tuberculosis dan tahan hidup pada tempat gelap, sehingga perkembangbiakan bakteri lebih banyak di rumah yang gelap (Anonim, 1999).
Beberapa penelitian telah dilakukan yang menegaskan bahwa suhu udara bisa menjadi salah satu faktor penyebab (faktor risiko) Tb paru seperti penelitian yang dilakukan oleh Fatimah (2008) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara kejadian Tb paru dengan suhu (OR 2,674). Selanjutnya, Atmosukarto dan Soewasti (2000) yang melakukan penelitian tentang pengaruh lingkungan permukiman dengan kejadian Tb paru menemukan bahwa suhu ruangan memberikan pengaruh terhadap kejadiaan Tb paru dengan OR sebesar 5,126. Hal ini menunjukkan bahwa individu yang memiliki rumah dengan suhu <18 / > 30oC memiliki risiko terkena Tb paru sebesar 2,7 an 5,1 kali dibandingkan dengan suhu ruangan 18-30oC.
Suhu udara yang ideal dalam rumah antara 18 - 30°C. Gould dan Brooker (2003) menyatakan bahwa bakteri M. tuberculosis merupakan bakteri mesofilik yang bisa hidup pada suhu udara 10-40oC. Suhu optimal pertumbuhan bakteri sangat bervariasi, M. tuberculosis tumbuh optimal pada suhu 37°C. Paparan sinar matahari selama 5 menit dapat membunuh M. tuberculosis. Bakteri tahan hidup pada tempat gelap, sehingga perkembangbiakan bakteri lebih banyak di rumah yang gelap (Anonim, 1999).

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Kepadatan hunian dapat menyebabkan kejadian Tb paru dimana kepadatan hunian ≥ 0,5 lebih besar risikonya jika dibandingkan dengan < 0,5.
2.      Luas ventilasi dapat menyebabkan kejadian Tb paru dimana luas ventilasi < 15% lebih besar risikonya jika dibandingkan dengan ≥ 15%.
3.      Suhu ruangan dapat menyebabkan kejadian Tb paru dimana suhu ruangan < 18oC lebih besar risikonya jika dibandingkan dengan ≥ 18oC.
Pada akhir penelitian ini, berdasarkan hasil yang diperoleh maka beberapa saran yang bisa diberikan, yaitu bagi dinas kesehatan dan stakeholder terkait dapat melakukan promosi sebagai tindakan pencegahan terutama bagi masyarakat yang mempunyai faktor risiko yang tinggi, dengan cara memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang persyaratan rumah sehat. Bagi masyarakat dapat menciptakan lingkungan rumah yang memenuhi persyaratan seperti luas ventilasi yang lebih dari 15% dan suhu ruangan diatur pada 18-30oC karena hal-hal ini menjadi faktor penghambat kejadian Tb paru.
DAFTAR PUSTAKA

Aditama, T. 2002. Diagnosis dan Pengobatan Tuberkulosis Terbaru. (online) (http://www.tbindonesia.or.id) diakses 23 Januari 2010
Adnani, H dan Mahastuti, A. 2007. Hubungan Kondisi Rumah dnegan Penyakit Tb Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Karangmojo Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2003-2006. Jurnal Kesehatan Surya Medika. Volume 1(1) halaman 1-21
Anonim. 1999. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.829/MenKes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan. Departemen Kesehatan RI. Jakarta
Anonim. 2002. Komunikasi Interpersonal Antara Petugas Kesehatan Dengan Penderita Tuberkulosis. Direktorat Jenderal PPM dan PL Departemen Kesehatan RI. Jakarta
Anonim. 2004. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Depertemen Kesehatan RI. Jakarta
Anonim. 2005. Survei Prevalensi Tuberkulosis di Indonesia. Departemen Kesehatan RI. Jakarta
Anonim. 2008. Riset Kesehatan Dasar tahun 2007. Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Apriani, W. 2001. Faktor-faktor yang berhubungan dengan Kejadian Tb paru di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2000. Tesis. Program Pascasarja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Depok
Atmosukarto dan S. Soewasti. 2000. Pengaruh Lingkungan permukiman terhadap kejadian Tb Paru. Media Litbangkes. Volume 9(4) hal. 1-10 Jakarta
Azwar, A. 1999. Pengantar Epidemiologi. Binarupa Aksara. Jakarta
Behrman, R. E., Kliegman, R. M., dan Jenson, H.B. 2003. Nelson Texbook of Pediatrics. Edisi-16. W.B. Saunders Company. Phildelphia
Benenson, A. 1990. Control of Communicable Disease in Man. American Public Health Association. Washington. USA
Bustan, M. 1997. Pengantar Epidemiologi. Rineka Cipta. Jakarta
Crofton, J. 2002. Tuberculosis Klinis. Widya Medika. Jakarta
Daryatno. 2000. Hubungan Faktor Lingkungan dengan Kejadian Tb Paru. Balitbangkes. Jakarta
Fatimah, 2008. Faktor Kesehatan Lingkungan Rumah Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tb Paru Di Kabupaten Cilacap (Kecamatan : Sidareja, Cipari, Kedungreja, Patimuan, Gandrungmangu, Bantarsari) Tahun 2008. Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang.
Gould dan Brooker. 2003. Mikrobiologi Terapan. EGC. Jakarta
Karyadi, E., West, E.C., Schultink, W., Nelwan, H.R., Gross, R., dan Amin, Z. 2003.  A double-blind, placebo-controlled study of vitamin A and Zinc Supplementation in persons with tuberculosis in Indonesia: Effects on clinical response and nutritional status (online) (http://www.ajcn.org) diakses pada 7 Januari 2011
Kementerian Kesehatan RI. 2011. Riset Kesehatan Dasar 2010. Jakarta
Lubis, P. 1989. Perumahan Sehat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta
Notoatmodjo, S. 2003. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta
Ratnasari, N. 2005. Faktor-Faktor Risiko Tb Paru Di Beberapa Unit Pelayanan Kesehatan Kota Semarang. (online) (http://www.fkm.undip.ac.id) diakses pada 07 Januari 2011
Ratnawati. 2001. Hubungan antara ventilasi rumah dengan kejadian Tb paru di Kabupaten Jepara. (online) (http://www.fkm.undip.ac.id) diakses pada 07 Januari 2011
Rusnoto, P. Rahmatullah, dan A. Udiono. 2004. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Tb paru di Balai Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Paru. Jurnal Kesehatan. Universitas Diponegoro. Volume 2(1) hal 1-10
Sastroasmoro S, dan S. Ismail. 2010. Dasar- dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi ke-3. Sagung Seto. Jakarta
Subaeti, T. 2005. Faktor Risiko Tb paru Pada Petugas Mikroskopis Di Kabupaten Kebumen. (online) (http://www.fkm.undip.ac.id) diakses pada 07 Januari 2011
Sugiharto. 2004. Hubungan Kepadatan Hunian Rumah dengan Kejadian Penyakit Tb paru di Puskesmas Jenggot. Tesis. Universitas Diponegoro. Semarang
Sugiarti, S. 2005.  Hubungan Karakteristik Kondisi Rumah dan Praktik Kesehatan Dengan Kejadian TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Gemuh I Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal. Universitas Diponegoro. Semarang
Sugiarto, S. 2003. Hubungan Kondisi Fisik Rumah Dengan Kejadian Penyakit Tb Paru Di Kota Surakarta Tahun 2003. Universitas  Diponegoro. Semarang
Sumarjo. 2004. Pengaruh Lingkungan Perumahan terhadap Tb Paru di Jawa Barat. Balitbangkes. Jakarta
Sumini, S. 2005.  Hubungan Antara Pencahayaan Alami, Ventilasi, Kelembaban Dan Kepadatan Hunian Dengan Kejadian Penyakit Tb Paru Di Puskesmas Rujukan Mikroskopis (Prm) Sambirejo Kabupaten Sragen. Universitas Diponegoro, Semarang
Tobing L.T. 2009. Pengaruh Perilaku Penderita TB Paru dan Kondisi Rumah Terhadap Pencegahan Potensi Peularan TB Paru pada Keluarga di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2008. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Medan
Wiasa, I.W. 2009. Hubungan Faktor Lingkungan Fisik Rumah dengan Kejadian Tb paru di Kabupaten Tabanan. Tesis. Universitas Airlangga. Surabaya
Wildan, Y., S. Fatimah, T. Kuspiatiningsih., dan Sumardi. 2008. Hubungan Sosial Ekonomi dengan Angka Kejadiaan Tb paru BTA Positif di Puskesmas Sedati. Buletin Penelitian RSU dr. Soetomo. Volume 10(2) hal 74-80
World Health Organization. 1996. Global Tuberculosis Control. Surveillance, Planning, Financing. WHO Report (online) (http://www.who.int/gtb/publications/globrep) diakses pada tanggal 7 Januari 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar